5 Flying Fox Paling Seru di Dunia





1. Skywire di Taman Eden Project, Inggris

Taman masa depan ini merupakan imitasi mini bumi. Terdapat berbagai flora yang dikumpulkan dari seluruh dunia di rumah-rumah kaca ini. Atapnya yang tembus pandang dan berbentuk setengah lingkaran merupakan imitasi dari atmosfer bumi.

Selain memiliki fasilitas yang sangat canggih dan futuristik, taman ini juga punya area untuk menantang nyali. Cobalah meluncur sepanjang 740 meter dan lihat komplek Taman Eden Project dari atas. Jalur ini membentang di atas area seluas 141 km persegi.




2. Jungle Flight, Thailand

Apa rasanya melintas di antara pepohonan dan pegunungan? Jika penasaran, Anda bisa coba flying fox di kawasan hutan Chiang Mai. Hutan hujan di Thailand tidak hanya bisa dijelajahi namun juga bisa dinikmati dari ketinggian. Ada 34 jalur flying fox yang tersedia di sini.

Ketinggian flying fox ini mencapai 50 meter dari atas tanah. Serunya, Anda akan meluncur dari salah satu gunung tertinggi di Thailand yaitu Doi Lankah. Nikmati sensasi meluncur di antara pepohonan yang ada di puncak gunung.




3. Dragon's Breath, Haiti

Jika tadi sudah ada yang meluncur di atas taman dan hutan, kini saatnya meluncur di atas pantai. Flying fox Dragon's Breath di Haiti, AS menawarkan sensasi meluncur dengan pemandangan air laut beserta tepian pantainya.

Ini adalah flying fox terpanjang di kawasan pesisir Karibia. Panjang jalurnya mencapai 792 meter dan memiliki kecepatan hingga 50 km/jam. Jika tertantang, Anda bisa datang ke Pantai Labadee dan memulai peluncuran dari ketinggian 152 meter di atas laut.




4. Sky Trek, Costa Rica

Hampir sama dengan Jungle Flight di Thailand, Sky Trek di Costa Rica, Amerika Tengah ini juga mengajak Anda meluncur di atas hutan. Puaskan diri Anda memandangi pepohonan selama meluncur bersama flying fox ini. Jalur ini melintang sepanjang lebih dari 750 meter di antara pepohonan dan memiliki ketinggian 100 meter.




5. Cable Vuelo, Kolombia

Satu cara asyik menikmati taman nasional adalah dengan meluncur bersama flying fox di atas kawasan ini. Saat berlibur ke Taman Nasional Chicamocha di Kolombia, cobalah untuk naik flying foxnya. Di sini ada 3 jalur fyling fox berbeda yang mengajak Anda menikmati pemandangan dari atas.

Dengan flying fox ini, Anda bisa menikmati pemandangan mengagumkan dari canyon-canyon yang ada di sana. Bagi mereka yang tidak berani meluncur bebas dengan flying fox, mereka bisa menggunakan kereta gantung. Jadi, jangan aneh jika melihat kereta gantung melintas di depan Anda saat sedang meluncur.
[Read More...]


TEKNIK PEMASANGAN TALI (RIGGING)





Rigging adalah teknik pemasangan tali baik vertikal , horizontal maupun lintasan untuk rescue. Pemasangan lintasan ini harus selalu memperhatikan beberapa syarat agar bisa disebut sebagai rigging yang baik:

a. Aman untuk dilewati oleh semua anggota Tim.

b. Tidak merusak peralatan

c. Dapat dilewati oleh semua anggota Tim.

d. Siap digunakan untuk keadaan emergenci.


Anchor.

Anchor adalah point atau obyek yang akan dijadikan tambatan. Dalam pemilihan anchor perlu adanya perhitungan antara lain :

a). Jenis tambatan

b). Posisi tambatan

c). Kekuatan tambatan.


Berdasarkan jenisnya, anchor dibagi menjadi :


a. Natural Anchor (tambatan alam)

1. Pohon, sebelum kita memakai jenis ini kita harus memeriksa jenis pohon, umur pohon (dimensinya), tempat tumbuh, posisi tumbuh maupun kondisi dari pohon tersebut.penentuan jenis pohon adalah dari jenis nilai kekuatan kayu (serabut tunggang). Penentuan dari jenis akar ini dipengaruhi oleh mediah tumbuhya (andesit, kapur dl.). Pemakaian dari jenis ini harus pula memperhatikan posisi tambatan yang kita pasang pada pohon tersebut.

2. Lubang tembus.

Sebuah lubang yang bisa kita temui didinding, lantai maupun atap goa bisa terbentuk vertikal maupun horizontal. Sebelum menggunakan kita harus mengecek kelayakannya dengan memeriksa kekerasan batuan, keutuhan ,dan sruktur batuannya.

3. Rekahan, celah yang terbentuk dari pengikisan lapisan (horizontal) maupun crek (vertikal). Untuk jenis ini kita menggunakan pengamana sisip maupun paku tebing . bentuk celah , jenis celah , lebar celah arah penyepitan celah kondisi , permukaan bidang yang akan di di gunakan dan arah tarikan yang diinginkan harus diperhitungkan.

4. Chock Stone, batu yang terjepit pada celah sehingga berfungsi seperti pengaman sisip, atau biasa disebut chock. Sebelum digunakan terlebih dahulu periksa celah dan batu yang terjepit. Untuk celah harus diperhatikan pada bentuk celah, jenis celah, lebar celah, arah penyempitan celah dan kondisi permukaan bidang (bidang priksi, kekerasan pelapis). Untuk batu yang terjepit periksa jenis dan keadaan dari bentuk dan posisi terjepitnya. Setelah itu kita tentukan arah tarikan yang akan dibuat lalu perhatikan posisi peletakan webbing pengikatnya.

5. Tanduk (horn), jenis ini berupa pinggira dinding yang menonjol hasil dari air. Bentuk tonjolan harus selalu diperhatikan untuk menentukan tarikan dan teknik pemasangan webbingnya.

6. Ornament, biasanya hanya digunakan untuk mendapat beban horisonn (deviasi), karena ornament ini hanya menempel pada lantai tumbuhnya. Jenis anchor ini jarang digunakan karena praktis merusak pertumbuhannya.

b. Anchor buatan, pada pembuatan lintasan jika sudah tidak dapat menemukan natural anchor yang layak digunakan maka satu-satunya cara adalah menggunakan anchor buatan yang menggunakan bolts/spit/tebing.

Berdasarkan posisi dan urutan penerimaan beban maka anchor dibagi atas :

a. Main anchor, anchor utama, yaitu anchor yang secara langsung mendapatkan beban saat lintasan digunakan

b. Back-up, berfungsi sebagai cadangan jika main anchor terlepas atau jebol, jumlah anchor ini bisa lebih dari satu, dan nilai kekuatannya harus lebih besar dari main anchor.

Penempatan posisi back-up harus tetap memperhatikan keamanan tali dari friksi dan kerusakan lainnya ketika main anchor jebol.


Fall Factor

Adalah beban hentakan yang diterima oleh tali, back-up anchor, maupun penelusur ketika main anchor jebol. Untuk itulah harus selalu diperhatikan posisi antara main anchor dan back-up anchor.

Dalam kondisi medan tertentu kadang kita kesulitan untuk mendapatkan posisi back-up yang lebih tinggi dari pada main anchor. Untuk mengatasi hal tersebut kita menurunkan nilai fall factornya dengan memendekkan panjang lengkungan tali, memanjangkan simptul pada main anchor maupun memanjangkan anchor.


Simpul

Simpul adalah suatu bentukan tertentu (lilitan, tekukan) yang dibuat pada tali yang di fungsikan untuk menambatkan tali pada anchor, maupun untuk keperluan tertentu. Penegetahuan tentang simpul dan kemampuan membuat simpul dengan mudah dan cepat adalah bagian penting yang harus dimiliki seorang penelusur goa. Menguasai dan memahami simpul yang penting saja (sering dipakai dan dapat digunakan pada saat emergency) jauh lebih baik dari pada hanya mengenal bermacam-macam simpul tanpa tahu fungsi dan kegunaannya. Pendalaman dan pemahaman simpul yang penting dan sering digunakan dalam penelusuran goa secara detail, akan memudahkan jika ada terjadi emergency, pertolongan akan lebih mudah dilakukan seorang penelusur dalam membuat simpul tanpa harus membuat dua kali, sehingga berlaku sebagai reaksi otomatis.
Criteria simpul yang baik
Simpul yang baik untuk penelusur goa vertikal dibagi 5 (lima) criteria adalah sebagai berikut :
1. Mudah untuk dibuat dan serbaguna.
2. Mudah dilihat kebenaran lilitannya.
3. Aman, dengan ikatan/lilitan tidak bergerak dan bergeser ataupun bertumpuk pada saat dibebani.
4. Mudah dilepas/diurai setelah dilbebani.
5. Mengurangi kekuatan tali seminimal mungkin.
Seorang penelusur yang baik harus ingat seperti apa simpul yang baik dan tahu cara menelitinya lagi apakah simpul yang dibuat/akan dipergunakan sudah benar. Hal ini sebaiknya bisa dijadikan standart praktek yan aman bagi sebuah tim penelusur goa dan bukannya diterima sebagai suatu ejekan atau suatu penghinaan.
Factor keamanan yang dimaksud adalah kemampuan simpul tetap terikat kuat setelah disimpul. Beberapa simpul dalam bentuk dasarnya cenderung kehilangan fungsi kerjanya bila tidak diberi beban (mengendor) lilitannya. Seperti pada simpul bowline adalah contoh yang paling umum. Untuk mengatasi hal itu simpul ini harus diakhiri dengan sebuah simpul Overhand Knot. Seluruh lilitan dikencangkan dengan tangan sebelum dipakai dan diberi sisa paling sedikit 10 cm.
Pada prinsipnya semua simpul mengurangi kekuatan tali pada tempat simpul yang dibuat, dengan alasan simpul tersebut mengakibatkan tali bertekuk-tekuk. Pada waktu tali diberi beban, pilinan disisi dalam tekukan simpul mendapat beban lebih banyak disbanding serat sisi luar tekukan simpul sehingga daerah tersebut menjadi lemah. Walaupun letak titik putus dari tali tidak bisa dipastikan. Berikut daftar simpul yang banyak digunakan.
Bowline
Pada dasarnya bowline merupakan simpul yang paling banyak dikenal dan digunakan. Bowline dapat memberikan hasil yang baik bila tali yang digunakan melingkari obyek tertentu misalnya, anchor poin yang dipasang pada pohon atau pinggang. Bowline dapat dibuat dengan tepat dan mudah tanpa memerlukan banyak latihan dan dapat dibuat dengan satu tangan dalam keadaan gelap, sehingga sering digunakan dalam keadaan emergency. Kelebihan lain adalah bowline mudah diuraikan kembali, walaupun barui saja mendapatkan beban mendekati beaking strength. Hal ini dapat dibuktikan pada rescue. Harus selalu diingat ekor (tali) diletakkan dalam loop. Bowline belum selesai sebelum diamankan disimpul dengan stopper yang biasa digunakan adalah Overhand Knot.
Figure eigth loop (simpul delapan)
Simpul figure eigth loop lebih aman dibandingkan bowline dan merupakan simpul yang sering popular pada kegiatan penelusuran goa. Simpul ini dapat dibuat dengan benar jika ikatan pada standing partnya berada diluar dan ekornya terletak didalam. Jika simpul ini dibuat terbalik (standing parnya didalam) simpul ini akan berkurang lagi kekuatannya sebanyak 10 % dari standart kekuatan simpul. Untuk figure eigth loop mempunyai kelebihan lain yaitu lebih cepat dan mudah diteliti, selain itu simpul ini bersifat serba guna.
Overhand Knot
Simpul ini dapat digunakan sebagai pengganti simpul figure eigth loop like dalam keadaan emergensi karena factor kecepatan. Bagaimanapun juga simpul overhand tidak kuat simpul delapan. Hal ini dapat dilihat table dua selain itu simpul overhand knot jika terkena beban susah untuk diuraikan kembali. Akan tetapi simpul ini sering digunakan untuk mengamankan simpul utama supaya tidak terlepas dari ekornya.
Fisherman Knot
Menyambung tali sering digunakan dalam penyambungan tali untuk pitch rigging maupun penyambungan sling. Untuk menyambung tali dengan diameter yang sama biasanya sering digunakan adalah simpul delapan sambungan (simpul delapan ganda maupun simpul delapan tunggal) atau duble fisherman.
Tetapi untuk diameter yang berbeda, simpul fisherman adalah lebih baik dari simpul delapan sambungan. Biasanya untuk memudahkan dalam menyambung tali, simpul delapan sambungan sering digunakan karena mudah diteliti dan mudah diuraikan walupun simpul double fisherman lebih kuat dibandingkan dengan simpul delapan. Untuk menyambung wabbing atau pita anchor yang paling popular adalah simpul overhand knot sambungan (water knot), karena selain tidak melipat webbing simpul ini mudah dipelajari, mudah dibuat dan mudah diuraikan.
Butterfly Knot
Simpul ini biasa dibuat dengan tali, yang biasa dibebani baik pada loopnya maupun pada bagian yang terdiri (standing part). Mudah diatur dan mudah diurai setelah dibebani. Biasa difungsikan untuk simpul rigging, simpul pengaman ditengah tali (traverse), maupun untuk mengamankan bagaian cacat dari tengah tali.
Playboy knot
Biasa juga disebut simpul kelinci (rabbit knot). Simpul ini dibuat dengan bentuk dasar dari simpul delapan perbedaannya adalah mempunyai dua loop. Simpul ini biasa digunakan untuk membentuk Y anchor, yaitu masing-masing loop ditambatkan pada anchor yang berbeda.
Italian hitch
Simpul ini adalah simpul bergerak (lilitannya bisa bergerak) bisa digunakan untuk belaying, lowering, hauling, maupun Descending.
Salah satu syarat rigging yang baik adalah tidak merusak alat, kerusakan yang muncul biasanya adalah pada tali karena friksi dengan tebing/batu. Untuk itu dibuat beberapa macam anchor yang berfungsi untuk menghilangkan friksi tersebut.
[Read More...]


Mengapa Suka Memanjat Tebing?





Mengapa Suka Memanjat Tebing? Pertanyaan wajar dan sederhana, tetapi terkadang kita sulit menjawabnya. Jawaban klasik hanyalah: Karena hobby! Itu saja. Padahal dalam hitungan logika, panjat tebing adalah kegiatan yang berbahaya dan tergolong ekstrim, apabila kita tidak mempersiapkan dengan benar. Kemudian, Mengapa Suka Memanjat Tebing? Tidak takutkah dengan bahaya?



Seorang pemanjat tebing profesional pernah berkata pada saya mengenai mengapa dia suka memanjat tebing tebing gunung yang tinggi.

"Bukan karena merasa menaklukkan, atau juga bukan karena keinginan membuktikan kehebatan yang membuat saya ketagihan memanjat tebing , tetapi lebih karena perasaan yang terjadi selama proses memanjat, yaitu perasaan sabar, tabah, istiqomah untuk menyelesaikan pemanjatan yang bertarung dengan perasaan takut dan kengerian akan bahaya yang mengintai setiap saat."

"Dan ketika pemanjatan itu tercapai, maka saya merasa mendapat hadiah berupa pemandangan alam yang sangat indah dari atas. Semua proses memanjat inilah yang membuat saya merasa dekat dengan Sang Penolong, Sang Pelindung dan kepada Sang Pencipta ketika sampai pada puncak tebing"

Jadi, panjatlah tebing apabila kita mau dan suka. Setelahnya, temukanlah makna yang dalam saat di alam terbuka. Setelah kita bersusah payah dan serius dalam hal apapun, niscaya akan menemukan keindahan setelahnya. Itulah hadiah akibat kerja keras yang diselingi cinta.
[Read More...]


Teori Evakuasi Panjat Tebing





Kecelakaan dalam panjat tebing mempunyai tingkat kecelakaan yang tinggi hal ini disebabkan kegiatan ini penuh resiko

da tantangan. Kecelakaan dalam melakukan pemanjatan dapat berakibat kematian, patah tulang atau retak ketika jatuh

dalam pemanjatan. Kecelakaan dalam pemanjatan dapat disebabkan beberapa faktor yaitu faktor kesalahan teknis

berupa kesalahan pemasangan alat dan faktor non teknis berupa kecelakaan yang di sebabkan seperti gigitan ular, kram

otot atau dehidrasi pada pemanjat. Dari banyaknya kasus kecelakaan panjat tebing seorang pemanjat dituntut untuk

sedikit banyaknya mengetahui teknik evakuasi dalam panjat tebing.

Ada tiga cara evakuasi kecelakaan dalam panjat tebing :

1. Korban diturunkan (lowering)

2. Korban dinaikkan (raising)

3. Korban diseberangkan (suspension)

Keputusan untuk mengambil salah satu cara yang akan dilakukan harus teliti secara cepat cermat dalam pemilihannya,

tergantung kondisi medan tebing dan akses yang tercepat untuk membawa korban ke tempat aman serta dibawa ke

rumah sakit atau puskesmas terdekat. Sebelum dievakuasi sebaiknya diketahui terlebih dahulu stadium(tingkat

kecelakaan yang dialami korban), selanjurnya dilkukan pertolnagn pertama, kemudian pemilihan cara yang akan

dilakukakan dari hasil pertimbangannya, korban dinaikkan, diturunkan, atau diseberangkan ke tebing sebelahnya.
[Read More...]


TEKNIK DASAR PANJAT TEBING





TEKNIK DASAR PANJAT TEBING
Seorang pemanjat harus bisa memahami tebing yang akan dipanjat, bagaimana kontur tebing tersebut, apa saja peralatan yang nantinya akan dipergunakan, dan kalau bisa tahu secara detail bagaimana bentuk pegangan dan celah-celah yang ada pada tebing tersebut  yang paling utama pemanjat harus  bisa menentukan jalur pemanjatan, cara pemasangan dan penggunaan peralatan yang benar, hal itu akan menjadi safety standart prosedur dalam pemanjatan sehingga menjadi support tambahan bagi kesuksesan dalam melakukan pemanjatan.
Teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :
a.   Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan
b.   Friction / Slab Climbing
Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu
c.   Fissure Climbing
 Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak

Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut ;
a.   Jamming
Teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau tangan dapat dimasukkan / diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak
b.   Chimneying
Teknik memanjat celah vertical yang cukup besar. Badan masuk diantara celah dan punggung menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula dan membantu mendorong serta membantu menahan berat badan.
c.   Bridging
Teknik memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang kaki sebagai tumpuan dibantu juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.
d.   Lay back
Teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menempatkan kedua kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik silih berganti.
e.   Hand traverse
Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertukal sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.
f.   Mantelself
Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun cukup besar untuk diandalkan untuk tempat brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk menarik berat badan dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengngkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.
Sebagaimana panjat tebing ialah memanfaatkan cacat batuan untuk menambah ketinggian sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil juga dalam kemampuan berfikir yang tepat dalam bertindak dengan keadaan yang terbatas untuk membuat keputusan menyiasati dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.

Tahapan-tahapan dalam pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkh sebagai berikut :
a.   mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dicapai.
b.   Menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan
c.   Untuk Leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas dari Leader sendiri adalah membuat lintasan yang akan dilaluinya dan pemanjat berikutnya.
d.   Untuk Belayer, memasang ancor dan merapikan alat-alat. Tugasnya adalah membantu Leader baik dengan aba-aba maupun dengan tali yang dipakai Leader, Belayer juga bertugas mengamankan Belayer dari resiko jatuh atau yang lainnya, dengan langkah awal yaitu meneliti penganman yang dipakai Leader.
e.   Bila belayer dan Leader telah siap melakukan pemanjatan, segera memberi aba-aba pemanjatan
f.   Bila Leader sampai ketinggian 1 pitch (tali habis) ian harus memasang ancor.
g.   Leader yang sudah memasang ancor diatas, selanjutnya berfungsi sebagai Belayer untuk mengamankan pemenjat berikutnya.

[Read More...]


Teknik Turun / Rappeling





Teknik Turun / Rappeling
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang sepeuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappelling adalah sebagai berikut :
Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.
Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan.
Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling
1. Body Rappel
Menggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang terkena gesekan akan terasa panas.
2. Brakebar Rappe
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah descender (figure of 8). Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya gesek diberikan pada descender atau brakebar.
3. Sling Rappel
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch.
4. Arm Rappel / Hesti
Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.
Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :
Periksa dahulu anchornya.
Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.
Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan bahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).
Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga apabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga dapat melihat lintasan yang ada.
Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan lainnya.
[Read More...]


Peralatan Pemanjatan





1. Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :
Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.
Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok (merah, jingga, ungu).
2. Carabiner
Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :
- Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
- Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)
3. Sling
Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
Sebagai Penghubung
Mengurangi gaya gesek/memperpanjang point
Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang
Membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing
4. Descender
Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.
5. Ascender
Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.
6. Harnes / Tali Tubuh
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harnes :
Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.
7. Sepatu
Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :
Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.
8. Anchor (Jangkar)
Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :
Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.
[Read More...]


 

Return to top of page Copyright © 2012 | Satgana Unai